Bapao Zone Area

Freedom to Search, Find, Read, Chat and Leave Ur Comments…

Archive for the ‘Dari Hati’ Category

Seorang Pasangan Kiriman Tuhan

Posted by muthiamaharani on November 25, 2009

Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab.

Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan,seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan. Saya menginginkan pasangan yang baik hati,lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian. Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.

Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan saya. Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, “HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan.”

Saya bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia! menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.”

Aku bertanya lagi, “Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat
memperoleh apa yang aku pinta dariMu?”

Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskan kepadamu. Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagiKu untukmemberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam; atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam; seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”

Kemudian Ia berkata kepada saya, “Adalah lebih baik jika Aku memberikan
kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semua itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu”.

Ini untuk : yang baru saja menikah, yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.

J I K A……..

Jika kamu memancing ikan…..
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil
Ikan itu…..
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.

Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang… .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya…..
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja……
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi dia mengingat… ..

Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada
takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh……cukuplah sekadar keperluanmu. ……
Apabila sekali ia retak……tentu sukar untuk kamu menambalnya semula……
Akhirnya ia dibuang….. .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi…..

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya…. .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya Begitu istimewa…. .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk
menerimanya. ….akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus
Hingga ke akhirnya…. .

Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi…..yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain….
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan
menyesal.

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan….yang membawa kebaikan kepada dirimu. Menyayangimu. Mengasihimu. Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang Lain kamu juga akan menyesal.

Sumber tulisan : Tarbawi Community

Posted in Dari Hati | Leave a Comment »

Ketika

Posted by muthiamaharani on November 25, 2009

1.ketika akan menikah
• janganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita.
• janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. ketika melamar
• anda bukan sedang meminta kepada orangtua/wali si gadis, tetapi meminta kepada tuhan melalui orangtua/wali si gadis.

3. ketika akad nikah
• anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan alloh swt.

4. ketika resepsi pernikahan
• catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoakan anda, karena anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berpikir untuk bercerai karena menyia-nyiakan doa mereka.

5. sejak malam pertama
bersyukur dan bersabarlah
• anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat

6. selama menempuh hidup berkeluarga
• sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melulu jalan bertabur bunga tapi juga semak belukar yang penuh dengan onak dan duri

7. ketika biduk rumah tangga oleng
• jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegangan tangan.

8. ketika belum memiliki anak
• cintailah isteri atau suami anda 100% karena alloh swt

9. ketika telah memiliki anak
• jangan bagi cinta anda kepada (suami) isteri dan anak anda, tetapi cintailah isteri atau suami anda 100% dan cintai anak-anak anda masing-masing 100%.

10. ketika ekonomi keluarga belum membaik
• yakinlah bahwa pintu rejeki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.

11. ketika ekonomi membaik
• jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.

12. ketika anda adalah suami
• boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan anda.

13. ketika anda adalah isteri
• tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

14. ketika mendidik anak
• jangan pernah berpikir bahwa orangtua yang baik adalah orangtua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orangtua yang baik adalah orangtua yang jujur kepada anak.

15. ketika anak bermasalah
• yakinlah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orangtuanya.

16. ketika ada pil
• jangan diminum, cukupkanlah suami sebagai obat.

17. ketika ada wil
• jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

18. ketika memilih potret keluarga
• pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga beriman.

19. ketika ingin langgeng harmonis
gunakanlah formula 6 k :
1. ketakwaan
2. kasih sayang
3. kesetiaan
4. komunikasi dialogis
5. keterbukaan
6. kejujuran

Posted in Dari Hati | Leave a Comment »

C I N T A

Posted by muthiamaharani on November 25, 2009

CINTA…

Tuhan…
Saat aku menyukai seseorang…
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir…
Karena ia pasti akan kembali kepadaMu…
Sehingga akupun tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir…

Tuhan…
Ketika aku merindukan seorang kekasih…
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati Mu…
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi…

Tuhan…
Jika aku mesti mencintai seseorang…
Temukanlah aku dengan orang yang Mencintai-Mu…
Agar bertambah kuat cintaku pada-mu…

Tuhan…
Ketika aku sedang jatuh cinta…
Jagalah cinta itu…
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu…

Tuhan ketika aku berucap ’aku cinta padamu’…
Biarkanlah ku katakan kepada yang hatinya terpaut pada-Mu…
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu…

Sebagaimana orang bijak berucap…
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa…
Dicintai seseorang adalah sesuatu…
Dicintai oleh seseorang yang kau cintai sangatlah berarti…
Tapi dicintai oleh Sang Pencipta adalah segalanya…

Posted in Dari Hati | Leave a Comment »

Memetik Makna dari Majlis Nikah

Posted by muthiamaharani on November 25, 2009

Hidup laksana sekolah alam tanpa batas. Manusia menemukan sumber
belajar apapun di dalamnya dalam skala yang tak terukur. Sebagian
manusia menjadi cerdas otak dan qalbunya, lalu mampu menghadirkan
manfaat karena kecerdasannya itu sebagai hasil belajarnya. Sosoknya
melejit menjadi manusia soleh. Soleh secara personal dan sosial secara
bersamaan.  Sebagian yang lain menjadi cerdas otaknya saja, sementara
qalbunya tetap kering dari pintar. Manusia seperti ini sering terjebak
pada nilai materialistik dan individualistik. Kesadarannya tentang
manfaat hanya sebatas menghadirkan perangkat keras kehidupan yang
habis-pakai. Ia sama sekali tercerabut dari essensi yang paling dasar,
yaitu spiritualitas.

Kebalikan dari itu, adalah keberadaan manusia yang cerdas qalbunya
tanpa diimbangi kecerdasan otaknya. Mereka adalah manusia-manusia yang
begitu kental spiritualitasnya di satu sisi. Tapi pada sisi yang lain
tidak pernah �ngeh� dari aktualita dunia. Bahkan tidak disadari, mereka
kadang keliru dalam memahami semangat spiritualitasnya itu dengan
tindakan yang justru bertolak belakang dari nilai-nilai dasar
religiusitas. Manusia kedua dan ketiga mengalami kesenjangan antara
aspek lahir dan aspek batin.  Keduanya asik dengan �dunianya�
sendiri-sendiri. Yang terakhir adalah manusia yang sama sekali tidak
bisa cerdas otak dan qalbunya dalam arti �mati rasa nalar fikir dan
hatinya�. Bahasa wahyu �kal an’aam bal hum adhaluu� barangkali
tidak sepenuhnya tepat untuk sebutan atas mereka, tetapi paling tidak
sedikit memberikan gambaran atas keberadaannya.

Manusia ideal (kaamil) adalah manusia yang
memahami hidup untuk apa, apa yang harus dikerjakan dan kemana akhir
hayatnya. Ia tahu betul akan makna hidup dan selalu berusaha
memperbaiki makna hidupnya dari waktu ke waktu sampai masa hidupnya
berakhir di bungkusan kain kafan. Demikianlah manusia yang cerdas akal
dan ruhaninya.
Manusia yang bermakna.

Manusia memang tidak pernah sempurna, tetapi di
balik keterbatasannya itu ia memiliki peluang untuk menjadi manusia
bermakna dalam segala ruang dan waktu. Manusia dapat menjadi suami atau
isteri bermakna. Menjadi ayah atau ibu yang bermakna. Atau menjadi
apapun yang membawa manfaat dan kebermaknaan bagi kiri-kanannya.

Dari televisi kita tahu, dari internet, dari
majalah dan koran, dari berbagai media kita tahu. Kita banyak
kehilangan makna hidup, satu di antaranya makna hidup rumah tangga.
Pernikahan bagai permainan. Hubungan suami-isteri bak sandiwara.
Kekerasan rumah tangga seperti kebiasaan oleh publikasi. Banyak di
sekitar kita telah gagal belajar dan menjadi cerdas lahir batin dalam
institusi rumah tangga. Kita banyak kehilangan makna dari konsep
sakinah, mawaddah dan rahmah.Â

Wejangan supaya menjadi suami-isteri bermakna
terhitung jarang diulas secara lugas dan cerdas, meskipun dalam sebuah
majlis pernikahan. Biasanya nasehat pernikahan bernuansa datar-datar
saja kalau tidak dikatakan sangat standar. Pernikahan dikhutbahkan
selalu dalam wacana bahwa ia merupakan sunnah. Bahwa biasanya wanita
dinikahi karena alasan hartanya, nasabnya, kecantikannya, lalu
konsideran akhirnya adalah anjuran untuk memilih wanita karena alasan
agamanya. Hadits yang juga hampir tidak pernah luput disinggung dalam
majlis itu adalah anjuran segera menikah bagi laki-laki yang telah
mapan atau sebaiknya berpuasa sebagai konpensasinya.

Namun di nalar dai yang kreatif, dalil-dalil di
atas mampu dihadirkan lebih hidup, menyentuh, nyambung dengan realita,
segar dan lebih bermakna. Saya teringat dengan sebuah majlis pernikahan
seorang sahabat, di mana hadirin disuguhkan pesan-pesan seperti
kriteria yang tadi saya sebut, tentu menurut perspektif saya.

�Kepada pasangan yang baru menikah, semoga dapat
menjadi suami dan isteri yang bermakna. Kepada para pengantin yang
telah lama menikah, semoga menjadi pasangan yang lebih bermakna�,
begitu kira-kira awal mula kata �bermakna� itu diulasnya nyentrik.
Menjadi suami atau isteri bermakna amatlah mulia.
Keduanya bukanlah sekedar pasangan yang telah mengikat janji perkawinan
sebagai suami isteri dari sebuah institusi pernikahan.
Mereka tidak
sekedar pemilik sah buku nikah, tetapi taat pada nilai-nilai luhur
kesetiaan pada pasangan, saling menjaga kehormatan, memenuhi segala hak
dan kewajiban serta teladan bagi anak-anaknya. Peran keduanya amatlah
luhur, terutama dalam mewarnai (shibghah) ke arah mana haluan
generasinya akan dibawa. Apakah menuju generasi rabbani yang cerdas otak dan qalbunya atau sepenuhnya berlawanan arah dengan predikat mulia tersebut.

Kebalikan dari suami atau isteri bermakna amatlah
rendah. Kedua mereka sama sekali tidak memahami makna luhur status
masing-masing. Bahkan dalam konteks kesemerawutan tata nilai zaman ini,
tidak jarang mereka malah menjadi bermakna �suami� atau bermakna
�isteri� bagi laki-laki atau wanita asing. Status suami atau isteri
hanyalah sebutan saat mereka bersamaan hadir di rumah tinggal dan
sewaktu berinteraksi di wilayah privat room saja. Selebihnya tidak lain
sebagai suami yang liar, haus, petualang dari satu dekapan ke dekapan
wanita lain dan sama sekali tidak memperdulikan resiko bagi dirinya
serta masa depan perkawinan dan anak-anaknya. Selebihnya pula, hanya
sebagai isteri yang binal dan tanpa kehormatan karena telah dihisap
siapa saja di luaran.
Meeting dengan bos, bertemu klien, rapat dengan
jajaran direksi, seringkali dijadikan alasan lumrah dan kamuflaseÂ
untuk sebuah �rapat� yang bukan agenda rapat sesungguhnya.

�Jangan dikira setelah Anda menikah, godaan yang
menyangkut pola hubungan lawan jenis akan surut seiring diucapkannya
ijab qabul. Status baru sebagai seorang suami atau isteri, bukan
berarti otomatis akan menutup pintu godaan selingkuh di antara
pasangan. Justeru pertaruhannya lebih besar. Maka menjadilah pasangan
yang memberi makna amanah atas cinta yang dibina dan dilanggengkan
dengan ikrar sehidup dalam rumah tangga �.

Saya pikir sulit dibantah kebenaran ungkapan bijak
ini. Betapa banyak sudah drama rumah tangga berakhir tidak dengan happy
ending. Tapi meninggalkan bekas traumatik yang dalam bagi salah satu
pasangan atau anak-anak mereka. Mahligai perkawinan yang mahal dan
sakral itu, dihabisi oleh percintaan terlarang dan pengkhianatan yang
bukan saja murahan, tapi jorok dan sumber penyakit.

�Di sinilah fungsinya memelihara dan menyimpan
makna kemesraan. Jangan habiskan kemesraan saat bulan madu. Sisakan
untuk saat-saat sulit, di mana kita hampir tidak dapat keluar dari rasa
bosan. Apalagi, rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dan segar,
dari pada rumput di pekarangan sendiri�.

Pada bagian ini lebih seru diulas. Dasar pijakan
tentang kemesraan disampaikan dengan contoh hidup Kanjeng Rasul. Luar
biasa, saya percaya kemampuan mengulas akan sangat berpengaruh meskipun
topik yang sama pernah kita dengar dari sumber berbeda.
Beberapa contoh
kemudian mengalir dihadirkan. Cerita tentang teladan Rasulullah dalam
merawat cinta kasih dan kemesraan dalam rumah tangga Beliau.

Kisah ini dimulai dari Atha’ bin Yasar yang
mengisahkan Rasulullah tidur dalam satu selimut bersama Aisyah ra.
Aisyah kerap pula meminyaki bagian dari tubuh Rasulullah dengan nurah;
sejenis bubuk pewangi dengan sentuhan tangan kemesraannya. Aisyah
memang sangat kaya dengan khazanah kemesraan rumah tangga Nabi. Bahkan
barangkali pula, beliau adalah sumber yang paling otentik untuk
menggali informasi seputar rumah tangga Beliau. Putri Abu Bakar Siddiq
itu tanpa ragu mengungkapkan bahwa dirinya pernah mandi dalam satu
bejana bersama Rasulullah, menyisiri rambutnya, minum bergantian pada
gelas yang sama, menciumnya, atau diceritakannya Nabi tiduran di
pangkuannya dengan manja sampai bagaimana Nabi memanggilnya dengan
sebutan �Humaira� sebagai ekspresi rasa cinta dan kemesraan padanya.
Begitu pula ketika Aisyah bercerita dengan sangat manusiawi, bahwa
kerap kali mereka berdua bercanda sambil balapan lari. Mesra sekali.

�Jikalau kemesraan yang dicontohkan rumah tangga
Nabi ini dapat dihadirkan di setiap rumah tangga kita, masihkah berlaku
ungkapan � rumput tetangga kelihatan lebih hijau dan segar daripada
rumput di pekarangan sendiri�?. Hmmm, mestinya gugurlah makna ungkapan
itu. Sebaliknya akan tumbuh pengakuan, bahwa tidak ada rumput yang
lebih hijau dan lebih segar selain rumput yang tumbuh di pekarangan
rumahku sendiri.

Saya berpikir, majlis pernikahan adalah majlis
yang berkwalitas. Akan menambah bobot kwalitasnya jika diringi dengan
khutbah atau nasehat pekawinan yang berkwalitas pula.
Siapa tahu dengan
nasehat-nasehat yang berkwalitas dapat menekan animo sebagian kecil
orang berangkat ke Pengadilaan Agama untuk bercerai. Memang benar,
kelanggengan atau perceraian masih berhimpitan dengan persoalan jodoh.
Tetapi keputusan memilih jodoh dan bercerai pun tidak semata-mata
mutlak masalah takdir dan kehendak Tuhan. Manusia diberi sedikit kuasa
untuk memilih dari kedua hal tersebut.

Pada akhirnya, semua akan kembali kepada kadar
keimanan setiap orang. Kecerdasan otak adalah dimensi materialistik,
sedangkan kecerdasan qalbu adalah aspek kedalaman memaknai iman yang
immaterialistik. Rumah tangga yang diisi oleh suami-isteri yang cerdas
otak dan ruhaninya, sepertinya lebih siap belajar dari semesta dan siap
menjadi keluarga bermakna. Rumah tangga bermakna bukan semata lelaki
dewasanya pantas disebut ayah, wanita matangnya dipanggil ibu lalu
mereka menurunkan cucu sebagai generasi berikutnya. Bahkan keturunan
mereka tidak sekedar mendapat pengakuan secara genetis. Tapi, nilai sakiinah, mawaddah dan rahmah benar-benar hadir menjadi atap, dinding, lantai, jendela dan daun pintu bangunan fisik rumah tangga mereka.

Sahabat, semoga kalian adalah pasangan yang cerdas lahir batin dan bermakna satu sama lain. Amiin.

Posted in Dari Hati | Leave a Comment »

Wanita dan Pria

Posted by muthiamaharani on November 25, 2009

Ketika AKU menciptakan langit dan bumi, AKU
berfirman dan jadilah.
Ketika AKU menciptakan pria, AKU
membentuknya dan meniupkan nafas kehidupan
ke lubang hidungnya.

Tetapi engkau, wanita, AKU menghiasmu setelah
AKU meniupkan nafas kehidupan ke pria karena
lubang hidungmu terlalu lembut.
AKU membiarkan pria tertidur nyenyak sehingga
AKU dapat dengan sabar dan sempurna
membentuk engkau. Pria AKU buat tertidur
supaya dia tidak dapat mencampuri.

Dari satu tulang AKU menghiasmu. AKU memilih
tulang yang melindungi kehidupan pria.
AKU memilih tulang rusuk, yang melindungi
jantung dan paru-paru dan mendukungnya,
sebagaimana yang harus kamu lakukan.
Dari satu tulang ini AKU membentukmu dengan
sempurna dan cantik.

Sifatmu adalah seperti tulang rusuk, kuat tetapi
lembut dan mudah patah.
Engkau menyediakan perlindungan untuk organ
paling lembut dalam pria, hati dan jantungnya.
Jantungnya adalah pusat dari kehidupannya, paru-
parunya menggenggam nafas kehidupan.
Tulang rusuk akan mebiarkan dirinya patah
sebelum ia mengijinkan kerusakan terjadi pada
jantung.

Dukunglah pria sebagaimana tulang rusuk
melindungi tubuhnya.
Engkau tidak diambil dari kakinya untuk menjadi
alasnya, tidak juga diambil dari kepalanya untuk
menjadi atasannya.
Engkau diambil dari sisinya, untuk berdiri di
sebelahnya dan dipeluk dengan erat.

Engkau adalah malaikatKU yang sempurna.
Engkau adalah gadis kecilKU yang cantik.
Engkau telah tumbuh menjadi wanita yang
sempurna, dan mataKU terpuaskan ketika AKU
melihat hatimu.

Matamu-jangan mengubahnya.
Bibirmu sangat cantik ketika mengucapkan doa.
Hidungmu sangat sempurna dalam bentuk.
Tanganmu sangat lembut untuk disentuh.
AKU telah memberi perhatian pada wajahmu saat
engkau tertidur.
AKU menggenggam hatimu dekat denganKU.
Dari semua yang hidup dan bernafas, engkau
adalah yang paling mirip dengan AKU.

Adam berjalan bersamaKU di hari yang dingin
dan dia kesepian.
Dia tidak dapat melihat ataupun menyentuhKU.
Dia hanya dapat merasakanKU.
Jadi semua yang AKU ingin Adam berbagi
denganKU, AKU membentuknya di dalam kamu.
KekuatanKU, kemurnianKU, cintaKU,
perlindunganKU, dan dukunganKU.
Engkau adalah istimewa karena engkau adalah
perpanjangan tanganKU.
Pria melambangkan citraKU, wanita-perasaanKU.
Bersama-sama kalian melambangkan TUHAN
yang sejati.

Jadi Pria, perlakukan wanita dengan baik.
Cintailah dia, hormatilah dia, karena ia lembut.
Menyakitinya, berarti engkau menyakitiKU.
Apa yang engkau lakukan kepadanya, engkau
melakukannya kepadaKU.
Jika engkau menghancurkannya, engkau hanya
menghancurkan hatimu sendiri

Wanita dukunglah pria.
Dalam kesederhanaan, tunjukkan kepadanya
kekuatan perasaan yang telah KU berikan
kepadamu.
Dalam kesunyian tunjukkan kekuatanmu.
Dalam cinta tunjukkan kepadanya bahwa engkau
adalah tulang rusuknya yang melindungi tubuhnya.

Posted in Dari Hati | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.